Warta Jawa – Keberlangsungan kesenian tradisional seperti wayang kulit sangat bergantung pada upaya pelestarian yang dilakukan oleh seluruh lapisan masyarakat, terutama para pelaku budaya. Salah satu langkah strategis yang perlu dilakukan untuk memastikan kelangsungan seni wayang kulit adalah dengan menjaga dan memfasilitasi regenerasi dalang. Dalam konteks ini, regenerasi dalang merupakan hal yang sangat penting mengingat ketertarikan generasi muda terhadap seni tradisional mulai menghadapi tantangan serius. Tantangan tersebut muncul seiring dengan berkembangnya budaya populer dari luar negeri yang semakin mendominasi minat dan perhatian anak muda.
Ketua DPRD Jawa Tengah, Sumanto, menekankan pentingnya peran serta masyarakat, terutama dalam menjaga kelestarian wayang kulit. Hal tersebut disampaikan oleh Sumanto saat menghadiri Pagelaran Seni Tradisional Wayang Kulit dengan Lakon Gatotkaca Winisuda yang berlangsung di Desa Jati, Kecamatan Jaten, Kabupaten Karanganyar, beberapa waktu lalu. Pagelaran seni ini disambut antusias oleh warga setempat, yang menunjukkan betapa pentingnya seni budaya ini dalam kehidupan sosial masyarakat.
Pada kesempatan tersebut, Sumanto juga memberikan apresiasi kepada para pelaku seni yang terus berupaya menjaga dan mengembangkan seni wayang kulit. “Upaya untuk menjaga kesenian wayang kulit harus melibatkan semua pihak, terutama generasi muda. Agar tradisi ini tidak punah, kita perlu memastikan bahwa mereka yang menjadi penerus seni ini tidak hanya memahami teknik dan keterampilan dalang, tetapi juga nilai-nilai budaya dan filosofi yang terkandung dalam setiap lakon yang dimainkan,” ungkap Sumanto.
Pagelaran wayang kulit tersebut menampilkan Dalang Ki Canggih Tri Atmojo, seorang dalang senior yang dikenal luas akan keahliannya dalam mementaskan wayang kulit dengan lakon-lakon yang mendalam dan penuh makna. Selain itu, tampil pula Dalang Cilik Gibran Maheswara, seorang anak muda berbakat yang menunjukkan bahwa regenerasi dalang muda mulai berjalan dengan baik. Penampilan Gibran yang memukau penonton menunjukkan bahwa seni wayang kulit masih memiliki tempat di hati generasi muda, meskipun tantangan besar dari pengaruh budaya asing terus hadir.
Pada acara tersebut juga turut dihadirkan Bintang Tamu Uncek, yang memberikan warna dan keberagaman dalam pagelaran seni ini. Penampilan mereka semakin memperkaya pemahaman penonton tentang beragam gaya dan aliran dalam seni pewayangan.
Dalam kesempatan yang sama, Sumanto mengajak pemerintah daerah untuk lebih proaktif dalam membuka peluang bagi generasi muda untuk lebih mengenal dan menggeluti dunia pedalangan. Salah satu langkah yang disarankan adalah dengan mendirikan sanggar-sanggar seni yang menawarkan kelas khusus pedalangan untuk anak-anak dan remaja. “Kelas-kelas ini tidak hanya akan mengajarkan teknik memainkan wayang, tetapi juga akan memperkenalkan mereka pada filosofi yang terkandung dalam setiap cerita wayang. Hal ini penting agar mereka tidak hanya mahir dalam hal teknis, tetapi juga memahami nilai-nilai moral dan budaya yang terkandung dalam seni tradisional ini,” tambah Sumanto.
Selain itu, Sumanto juga menekankan pentingnya pengajaran tentang tata panggung, teknik vokal, dan seni pertunjukan lainnya, yang dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada generasi muda mengenai cara menyelenggarakan pertunjukan wayang kulit secara profesional. Sebagai bagian dari penguatan regenerasi, diharapkan banyak dalang baru yang muncul dari berbagai daerah, yang mampu menjaga dan mengembangkan wayang kulit menjadi lebih relevan di era modern tanpa mengorbankan nilai-nilai tradisionalnya.
“Dengan cara ini, saya percaya bahwa seni wayang kulit tidak hanya akan terus hidup, tetapi juga akan berkembang, sesuai dengan zaman tanpa meninggalkan akar budaya yang telah ada sejak ratusan tahun yang lalu,” tegas Sumanto. Ia juga berharap agar setiap generasi tidak hanya menjadi konsumen budaya, tetapi juga berperan aktif dalam melestarikan dan mengembangkan seni budaya lokal.
Sumanto juga mengingatkan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, pelaku seni, dan masyarakat dalam melestarikan kesenian tradisional. “Pemerintah daerah harus memberi dukungan berupa fasilitas dan pembiayaan yang memadai bagi pengembangan seni tradisional ini. Selain itu, masyarakat juga harus lebih menghargai seni tradisional dengan tidak hanya menjadikannya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai bagian penting dari identitas budaya kita,” tutup Sumanto.
Sebagai penutup, acara pagelaran seni tradisional ini menunjukkan bahwa meskipun tantangan untuk mempertahankan seni wayang kulit semakin berat, dengan adanya dukungan dari semua pihak, regenerasi dalang dan pelestarian seni ini masih memiliki harapan yang cerah di masa depan.









